Sudah lama aku dan dia tidak duduk berdua seperti ini. Bahkan saat ulang tahunnya dua minggu lalu, dia tidak duduk disampingku. Dan saat itu juga, aku menyadari kebenaran akan perasaannya selama ini.
Hari ini, langit terlihat lebih cerah dari biasanya. Sayang, aku dan dia tidak dapat mengimbangi cerahnya langit sore ini. Walau pun ia hanya berjarak berjarak satu senti dariku, anak kecil pasti sudah dapat menebak apa yang sebenarnya terjadi pada kami.
“Vin?” panggilku pelan. Tangan kecilnya yang lembut itu tetap tidak bergerak saat kusentuh. Begitu pula dengan wajahnya. Aku merasa seperti setan yang tidak dapat mengganggu mangsanya. Menyebalkan memang. Tapi apalah daya. Aku tetap harus menahan amarah yang telah menjalar di sekujur tubuhku. Aku tidak ingin malaikat secantik dia tersakiti.
“Vin, aku mau ngomong,” panggilku lagi setelah berhasil mengendalikan amarah yang tak henti-hentinya menjalar ke seluruh tubuhku.
Ia memalingkan wajahnya padaku. Terbesit dihatiku sebuah rasa senang karena berhasil membuatnya melihat padaku. Namun, tak sampai semenit kemudian, wajahnya sudah kembali melihat hamparan tangah di depannya dengan pandangan kosong. Huh.. Rasanya ingin sekali aku meneriakinya dan mengatakan bahwa ada aku, manusia bernyawa, di sampingnya.
“Vin, please jangan diem terus. Kalo kamu punya masalah, kamu bias cerita ke aku. Ada aku di sini yang menemanimu, Vin,” kataku pelan dengan sedikit ‘mengingatkan’.
Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Bahkan saat aku memegang tangannya lagi dan berlutut di hadapannya, ia hanya menatapku dengan tatapan seperti orang yang penuh dengan pengharapan dan kesedihan yang mendalam. Seakan-akan telah ada hujan yang singgah di sana dan tak memberikan sedikit pun kesempatan pada sang mentari untuk meneranginya.
Buru-buru aku berdiri dan memeluknya. Aku tak kuasa melihatnya seperti ini. Hatiku rasanya ingin keluar dan berkata padanya kalau ada aku di sini yang akan selalu di sampingnya dan menjaganya.
Dalam keadaannya yang masih tetap duduk, kami berpelukan cukup erat, hingga aku dapat mendengar napasnya yang mulai tidak beraturan. Sepertinya ia sedang… Sedikit cepat aku melepaskan pelukan dan menjauhkan tubuhnya dariku. Ia yang sadar akan apa yang kulakukan, buru-buru memalingkan wajahnya hingga aku hanya dapat melihat sekilas keadaannya.
“Aku tau apa yang kamu rasakan, Vin,” kataku lembut. Tangan kananku bergerak menyentuh lembut dagunya dan mencoba untuk mengangkat wajahnya. Matanya yang merah itu, kini bertemu dengan mataku yang juga sedang menatapnya. Perlahan, tangan kananku beralih menuju wajahnya dan menyeka air matanya.
Sebuah senyuman tiba-tiba melintas di bibir manisnya. Seperti mengisyaratkan sebuah ucapan terimakasih. Refleks aku membalas senyumnya dan mengecup lembut keningnya.
“Aku senang melihatmu tersenyum lagi,” ucapku setelah mengecup keningnya.
Sesaat setelah itu, kami terdiam lagi dengan pikiran yang berkecamuk dalam benak masing-masing.
“Emm.. Vin,” kataku yang mulai tak nyaman lagi dengan keadaan kami. Kulihat Vinna tidak menoleh sedikit pun ke arahku. Lagi-lagi dia tidak menghiraukan ucapanku. Hmmphh.. Semakin gemas aku dibuatnya.
Aku kembali berlutut di hadapannya. Kuraih dan kugenggam lembut tangan indahnya. Kupejamkan mataku sejenak dan kutarik napasku dalam-dalam. Aku sudah tidak dapat menahan hasrat untuk mengatakan sesuatu padanya.
Aku membuka mataku perlahanKulihat, ia sedang memperhatikanku dengan seksama. Sebuah garis terlukis di kedua alisnya. Sepertinya ia sedang menebak-nebak apa yang akan kulakukan. Hmm.. Entah mengapa aku selalu ingin memeluk dan mengecup keningnya saat ia sedang tersenyum atau memperhatikanku.
“Huh. Jangan meluk. Jangan ngelakuin apa-apa dulu. Lo harus ngomongin uneg-uneg lo dulu,” cegahku dalam hati.
Sekali lagi, aku menarik napasku sedalam yang aku bisa. “Vin,” panggilku setelah terkumpul cukup keberanian.
“Setelah ultahmu, aku sadar. Aku terlalu cepat datang ke dalam hidupmu,” aku menghentikan kata-kataku. Rasanya aku sudah tidak dapat bernapas dan melanjutkannya lagi.
Sekilas, kulihat Vinna sangat memperhatikanku. Sepertinya ia ingin aku segera menyelesaikan kalimatku. Ku penjamkan mataku dan kucoba untuk mengatakan apa yang seharusnya kukatakan. “Lebih cepat lebih baik,” bisikku dalam hati.
“Seharusnya aku sadar kalau masih ada cinta yang tersisa di hatimu untuknya. Seharusnya aku ngebebasin kamu dan ngebiarin kamu ngejar dia. Bukan malah ngepung kamu dengan jadi pacarku,” kata-kataku terhenti lagi.
Dadaku berdebar kencang. Aku tidak kuasa menatapnya. Sebentar lagi akan ada petir yang menyambarku. Aku tahu itu.
Kutahan mataku untuk tidak menatapnya. Dan untuk yang kesekian kalinya, aku berusaha mengatur napasku. “Mulai sekarang, kamu boleh pergi. Kamu boleh ngejar dia sejauh yang kamu mau. Ke mana pun dia pergi, kamu boleh tetep ada di sisinya tanpa harus memperdulikanku lagi. Dan aku, tidak akan menghalangimu,” kataku. Aku berhasil mengatakan semuanya. Sebuah kata-kata yang telah terpendam cukup lama dalam diriku. Sebuah kata-kata yang mampu menyayat-nyayat hatiku. Tapi aku tau ini adalah yang terbaik. Untuknya dan juga untuk diriku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar