Hanya Ada Kita Di Malam Ini


                Aku baru saja terbangun dari tidur. Sebuah hal yang aku suka dan sudah masuk dalam hal-hal favorit di hidupku. Ya, aku sangat suka tidur. Menurutku, dengan tidur beban yang kupikul dapat kuletakkan sejenak. Namun sekarang, aku kembali mengambil beban tersebut dan memikulnya untuk melanjutkan perjalanan hidupku.
                Bagiku, beban seperti sebuah dagangan orang lain yang mereka percayakan padaku dan menyuruhku untuk menjajakannya. Tentu saja aku tak mungkin meninggalkannya begitu saja. Kalau aku lakukan, aku akan mendapat masalah baru. Satu-satunya jalan adalah terus menjajakan dagangan dengan harga yang telah ditetapkan. Tanpa rugi. Kalau sudah habis tak tersisa, tidak akan timbul masalah baru. Yang ada malah kebahagiaan baru karena baru saja mendapat rejeki.
                Kembali lagi pada kisahku di malam yang sunyi ini. Layaknya jam beker. Aku seperti sudah tersetting utuk memejamkan mata pukul 7 malam dan membukanya kembali saat jarum jam sudah berada di angka 12. Dengan sejuta masalah yang masih melekat, tentunya.
                Aku tidak tau mengapa aku mempunyai jam tidur abnormal. Namun, kemarin temanku sempat bercerita kalau ia juga mempunyai jam tidur sama denganku. Huff! Aku bias menghembuskan nafas lega setelah mendengar ceritanya. Walau memiliki jam tidur abnormal, aku tetaplah gadis normal. 
                Sering aku merasa seolah-olah aku hidup seorang diri di dunia yang besar ini. Sendiri, sepi, sunyi, dan gelap. Sangat tak nyaman. Di saat seperti ini, aku selalu ingin pagi segera datang.
                Namun, ada sesuatu yang berbeda tengah malam ini. Aku merasa ada pelangi datang mewarnai malam kelam ini. Rasanya, aku ingin mentari tak menampakkan sinarnya lagi.
                Hmm.. taukah kau mengapa malam ini berbeda? Malam ini, seorang pangeran tanpa kuda putih menghampiriku. Ia mengulurkan tangan kanannya.
                “Ikutlah bersamaku. Aku akan menemanimu berkeliling kota. Aku bahkan sudah meninggalkan kudaku agar aku bisa menghabiskan waktu bersamamu,” katanya. Sebuah senyum manis tersungging di bibirnya.
                Ooohh… Wajahku merah membayangkannya. Sayang, itu hanya imajinasi semata. Kenyataannya ia bukanlah seorang pangeran. Dan parahnya, ia benar-benar tidak memiliki kuda putih. Yang ada hanyalah, ia memang sosok yang aku nanti-nantikan. Bahkan, aku lebih menantikan kedatangannya, ketimbang kedatangan sang pangeran.
                Bagiku, ia adalah sosok yang aku impi-impikan sejak dulu. Sosok sahabat dengan kesetia kawannnya. Ia rela memberikan bahunya saat aku dilanda masalah. Ia juga sosok kakak dengan kedewasaannya. Ia mau membantu memecahkan masalahku. Sayangnya, sampai saat ini aku belum pernah sekali pun melihat fotonya dan bertatap muka dengannya.
                Aneh sekali kalau aku sampai membangga-banggakan sosok yang hanya ada dalam dunia maya. Namun, memang seperti itulah perasaanku. Aku tak dapat membohonginya. Ia memang sosok special yang selalu aku damba-dambakan. Aku juga ingin bertemu dengannya. Walau aku tau resiko apa yang harus aku tanggung.
                Pernah sekali aku membayangkan aku dan dia bertemu di taman X. Aku duduk di kursi putih dengan kegelisahan mendalam karena ia tak kunjung datang. Sambil menunggu, aku menebak-nebak sosok yang akan aku temui. Apakah ia tinggi dengan hidung mancung dan mata sipit? Aku membayangkan Lee Min Hoo, aktor favoritku. Segera aku menertawakan diri. Tidak mungkin ada sosok sepeerti itu di sini. Aku mengganti sosok yang ada dalam bayanganku dengan para personel Super Junior dan beberapa artis Korea favoritku.
Setelah sabar menunggu, janjinya akhirnya terpenuhi. Seseorang tiba-tiba berdiri dihadapanku. Aku segera mengangkat wajah untuk mengetahui siapa gerangan ia.
                Deg!
                Bibirku seakan tak lagi dapat digerakkan. Bahkan hanya sekedar mengatakan ‘Hai’ saja sangat susah. Kekecewaan telah melanda hatiku. Ia berbeda 180 derajat dari bayangan yang memenuhi kepalaku. Tidak-tidak. Bukan 180 derajat lagi. Tapi sama sekali tidak ada kemiripan dengan semua sosok manusia yang sempat aku bayangkan tadi.
                “Emmm.. Apa kabar?” katanya membuka pembicaraan.
                “Baik,” jawabku canggung.
                “Mau ngapain?” tanyanya tanpa basa-basi. Sepertinya ia dapat membaca kekecewaanku.
                “Gak tau. Kita jalan-jalan sekitar taman aja,” jawabku cepat tanpa menatap wajahnya sedikit pun. Aku takut kalau kekecewaan itu semakin melanda hatiku.
                Tak sampai setengah jam aku dan dia memutari taman. Kebisuan melanda pertemuan kami. Tanpa berpamitan ‘aku pulang dulu’, motor yang terparkir tak jauh dari motornya segera aku jalankan dengan kecepatan penuh. Aku terus diam tanpa bisa mengendalikan kekecewaan. Sedang ia sepertinya bingung harus berkata apa karena kebisuanku.
                Aku buru-buru masuk kamar saat motor sudah terparkir aman di halaman rumah. Kekecewaan itu terus melandaku. Aku bahkan mematikan hand-phone dengan harapan aku tidak menemukan telepon atau smsnya sejenak.
                Hari selanjutnya, aku tetap dengan hal yang sama. Tetap dengan kekecewaan dan kebisuan itu. Untuk seterusnya, aku memutuskan untuk menjauhinya. Bukan keputusan yang baik memang, namun itu harapan terakhir agar kekecewaanku hilang.
                Uuuhh.. Aku ngeri membayangkannya. Aku seperti pemeran antagonis dalam sebuah sinetron. Di mana rasa terimakasih dan arti persahabatan 3 tahun ini? Kalau aku tak dapat menerimanya lagi karena masalah sepele itu, aku layak disebut SETAN. Bukan salah Tuhan karena telah menciptakannya. Bukan salah dia juga karena telah menjadi sahabatku dan hidup di bumi ini. Namun salahku. Salahku karena memiliki keegoisan yang tak terkendali.
                Jangan sampai deh!  Jangan sampai aku melakukan hal tersebut. Ia sangat berarti untukku. Aku tak ingin kehilangannya. Aku juga tak ingin jauh darinya. Kami sangat dekat. Kami bahkan telah menceritakan kisah hidup masing-masing.
                Seperti malam ini. Aku menceritakan kesendirian yang baru saja melanda. Tanpa seorang kekasih yang menemani. Sedang ia cenderung bercerita akan kerinduan pada cinta lamanya. Senyum manis menghiasi bibirku tepat setelah aku membaca pesannya. Selalu ada kebahagiaan tersendiri yang aku rasakan saat aku berbicara dengannya. Walau itu hanya dalam dunia maya.
                Malam ini, kami seperti dua makhluk yang tak sengaja bertemu karena kesendiriannya. Walau begitu, kami tetap tersenyum. Masing-masing dari kami telah menemukan sosok baru. Sosok baru yang akan memberi warna tersendiri dalam kehidupan kami.
                Ada rasa kehilangan saat aku membicarakan sosok yang kucintai tersebut. Namun, aku bersyukur karena tak kehilangan sahabat, sekaligus kakak dunia mayaku. Tak terbayangkan olehku, bagaimana jadinya kalau itu sampai terjadi. Aku tau, pada akhirnya pasti akan ada pernikahan yang akan memisahkan. Walau begitu, aku tetap tak rela kehilangannya. Aku tetap ingin bisa bercanda tawa dengannya hingga kematian memisahkan kami.


                March 10th, 2012.
2;12-5;45 a.m
With love,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar