Sebuah Penyesalan

“Ya ampun, Lia.. Buat apa beli baju lagi? Bajumu kan masih banyak yang bagus,” omel Mama saat melihat 5 kantong belanjaan yang aku bawa.
Hari ini benar-benar melelahkan. Satu jam desak-desakan cuma buat ngeborong baju yang lagi sale. Pulang-pulang diomelin sama ibu sendiri. Hufft. Nyebelin banget.
“Lia. Mama tanya ke kamu. Malah nyelonong gitu aja,” omel Mama lagi.
“Haduh, Mama.. Lia buru-buru nih. Lagian ini lagi sale, ma.. Sayang kalo dilewatin. Modelnya juga bagus-bagus. Nih liat. Bagus kan?” aku mengambil sebuah baju yang baru saja kubeli dan memperlihatkannya pada Mama.
“Terus bajumu yang lama mau kamu ke manain?”
“Emm.. Dipakai bisa. Dibuang juga bisa.”
Mama menggelengkan kepalanya. “Kamu itu ya. Selalu saja begini. Pasti gara-gara teman-teman kamu.”
“Enak aja. Teman-teman Lia sama sekali nggak ada pengaruhnya. Ini lagi tren. Emang Mama mau kalau anaknya dibilang jadul sama temen-temennya?”
“Mending dibilang jadul daripada harus beli-beli barang nggak berguna kayak gini. Lagian kamu dapat uang dari mana? Tiap hari selalu aja ada barang baru yang kamu bawa.”
“Ngambil dari tabungan lagi?” tebak Mama.
Aku nyengir lebar.
“Lia.. Sudah berapa kali Mama bilang ke kamu. Jangan diambil tabungannya. Sebentar lagi kamu lulus. Kalau nggak nabung, kamu nggak akan bisa kuliah. Kamu kan tau sendiri kondisi keuangan kita gimana.”
“Ya ampun, Mama. Masih 2 tahun lagi aku lulus. Lagian aku kan SMK. Nggak usah kuliah juga pasti dapet kerjaan,” balasku.
Huh. Mama selalu saja bikin bete. Emangnya salah apa kalau aku beli barang baru tiap harinya? Temen-temenku juga ngelakuin hal yang sama, tapi orang tua mereka sama sekali nggak ngomel. Mereka malah dibiarin gitu aja berkreasi sama hidup mereka. Sedang aku? Selalu aja diomelin. Gak boleh itu lah, gak boleh ini lah. Harus gitu lah, harus gini lah. Iya sih, demi kebaikanku juga. Tapi ya nggak usah segitunya kale’..!!
“Tabungannya nanti Mama yang bawa biar nggak kamu ambilin terus.”
“Yah, jangan dong, Ma. Nanti kalau aku mati gimana?”
“Ya udah. Enak nggak ada yang ngabisin tabungan lagi,” balas Mama ketus.
“Yah, Mama… Tega banget sih sama anak sendiri,” kataku manja.
“Kamu sih. Udah dinasehatin berkali-kali masih aja nggak nurut.”
“Ck. Mama ah,” umpatku sebal. “Coba kalau Papa masih ada. Mungkin aja hidup kita nggak akan kayak gini.”
Mama menghembuskan nafasnya.



                                                                      ***


Kiiiikkk..
Perlahan-lahan, kubuka pintu kamarku. Kupasang pendengaran dan penglihatan mataku tajam-tajam. Sedikit demi sedikit, kukeluarkan kepalaku lebih dulu untuk melihat keadaan diluar kamar. TV dan radio mati. Tidak ada bayangan Mama berkeliaran di sana. Sepertinya Mama sudah tidur.
“Aman..,” bisikku dalam hati.
Jeglek.
Pintu kamar sudah kukunci saat aku berhasil keluar dari kamar. Mama nggak akan bisa memeriksa kamar yang sudah tak berpenghuni itu.
Pelan tapi pasti, aku melangkah menuju pintu rumah. Andai aku punya alasan yang kuat, aku tidak akan sesusah ini hanya untuk keluar rumah. Kataku dalam hati.
Tiba-tiba kurasakan ada yang bergetar di saku rok sebelah kanan. Bisa kutebak itu pasti telpon dari salah satu temanku yang sudah menunggu di depan mal dekat rumahku. Sedikit lebih cepat, aku membuka pintu. Buru-buru kuhentikan kegiatan karena ada sedikit suara yang dihasilkan pintu yang seharusnya sudah pension itu. Aku menoleh kebelakang memastikan keadaan.
Tiba-tiba..
“Huaaa…!!” teriakku saat melihat ada sosok wanita yang berada tepat dibelakangku.
“Mau bohongin Mama lagi?” tanya sosok wanita yang berada dibelakangku tadi.
“Eh. Nggak kok, Ma. Tadi aku keluar lagi sepi. Aku kira Mama udah tidur. Jadi aku keluarnya pelan-pelan,” jawabku bohong.
“Mau ke mana kamu? Jangan bohongin Mama lagi.”
“Ngapain aku bohongin Mama? Temenku tadi telpon, katanya ada siapa ya namanya… Pokoknya katanya ada temenku satu kelas yang masuk rumah sakit gara-gara kecelakaan. Aku diajak buat jenguk dia,” jawabku berbohong lagi.
“Bener? Kalau bohong gimana?”
“Kalau bohong, nanti kejadian sama aku,” jawabku cepat.
“Oh Tuhan. Apa yang baru aja aku omongin? Kalau kejadian beneran gimana? Aku kan bohong ke Mama,” batinku. “Ah. Semoga aja gak pa-pa.”
“Oke. Mama pegang omonganmu,” balas Mama.

                                                         

                                                                   ***


Langit malam ini begitu gelap akibat hujan yang tak kunjung reda. Rasanya lampu mobil dan lampu yang ada di jalan tol saja tak cukup untuk menerangi malam ini. Beda dengan suasana di dalam mobil. Alunan musik di radio seakan menutupi segala kegelapan yang ada di luar sana. Sebagian besar dari kami sudah mabuk akibat pesta di Pub. Tapi kami masih terus bercanda dan tertawa riang.
“Lo ngantuk ya, Rey?” tanyaku setelah cukup lama memperhatikan pria yang kucintai.
“Ha?” Rey menoleh ke arahku. “Kata siapa gue ngantuk?”
Aku sedikit tidak yakin dengan jawaban Rey. Tapi Rey tidak pernah berbohong padaku. Kuedarkan pandangan ke luar jendela untuk menghilangkan pikiran negatif itu. Masih gelap seperti tadi. 
Aku refleks menoleh saat tiba-tiba Rey menyentuh kepalaku lagi. Mata Rey bertemu dengan mataku. Seulas senyum tersungging di bibirnya.
“Lo nggak ngantuk? Kalo lo ngantuk, tidur aja..,” kata Rey. Ia menatapku cukup lama.
Aku menjawab dengan anggukan dan membalas tatapannya. Tatapan kami saling beradu.
Tiba-tiba, seberkas cahaya menerangi kaca mobil. Sigap aku dan Rey menoleh.
“Rey awas..!!” teriakku.    


                                                                 ***


Kepalaku terasa pusing. Dengan sedikit paksaan, aku membuka mataku. Bola mata mengelilingi sekitar ruangan tempat aku berada.
“Di mana ini? Apa yang terjadi?” gumamku sangat pelan.
“Lia, kamu sudah sadar, sayang?” tanya seorang wanita paruh baya.
Aku mencoba mengingat siapa gerangan wanita yang ada di depanku. “Mama?” kataku sedikit ragu.
“Kamu masih ingat? Alhamdulillah..” Mama memelukku dengan erat.
“Aku di mana?”
Mama melepaskan pelukannya. “Kamu di rumah sakit, sayang.. Kamu habis kecelakaan. Kamu koma 3 hari,” cerita Mama.
“Rey, Sita, Icha, Cindy, mereka semua mana?” tanyaku setelah ingat apa yang telah terjadi.
“Rey dan yang lain luka berat.  Tapi Cindy nggak selamat,” cerita Mama. “Kata dokter, cuma kamu yang lukanya paling ringan.”
Perlahan air mataku menetes. Dengan sedikit tenaga yang tersisa aku mencoba mengangkat tubuhku. Mama yang sepertinnya tahu apa yang akan aku lakukan, dengan sigap tangannya membantuku. Setelah aku berhasil duduk, tanpa basa basi lagi Mama memeluk erat tubuhku. 
“Maafin Lia ya, Ma.. Lia udah durhaka sama Mama.. Lia janji nggak akan ngulangin lagi. Lia kapok kena karma..” kataku terbata-bata.
“Iya, sayang… Yang penting kamu nggak pa-pa..”
 “I love you, Mom..
I love you too, honey..



With love,
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar