Dia Telah Pergi
Dua tahun sudah kulewati masa-masa aku duduk di bangku Taman Kanak-kanak. Saat itu aku bertemu dengan seorang anak perempuan yang sangat cantik, murah hati, dan pintar. Saat aku melihatnya aku selalu ingin berkenalan dengannya. Aku selalu berdoa dan berdoa agar suatu saat dapat berkenalan dengan dia dan menjadi sahabatnya. Mungkin karena Tuhan mendengar doa yang selalu kupanjatkan pada-Nya.
Suatu hari timbullah tekad dan keinginanku untuk berkenalan dengannya. Kuhampirinya dengan langkah kecilku. Perlahan, kuhampiri tubuhnya dan beerkata. “Hai. Namaku Anna. Kamu siapa?.”
Senyumnya yang manispun keluar. Dia lalu berkata. “Dyana.”
Aku lega dengan jawabannya barusan. Tanpa fikir panjang, aku meneruskan pembicaraanku.
“Maukah kau enjadi temanku?”
“Tentu saja. Kebetulan aku belum mempunyai teman disini, jadi aku akan senang menerimanya,” jawabnya lagi dengan melebarkan bibirnya yang membentuk sebuah senyuman.
“Terimakasih.”
Sejak saat itu aku dan Dyana berteman baik. Waktu berjalan, dan terus berjalan hingga aku melanjutkan ke sekolah lanjutan yang bernama Sekolah Dasar. Kali ini aku masuk di SD Negeri 1 kota kelahiranku. Saat kali pertama masuk disana, aku sangatlah ketakutan. Tak ada seorangpun yang kukenal. Tuhan yang selalu sayang dan perhatian pada umatnya, ternate memberiku keringanan. Beberapa menit kemudian Dyana datang bersama seorang wanita dan lelaki paruh baya dan memasuki Sekolah Dasar tempatku berada. Aku sangatlah senang karena dapat bertemu lagi dengan teman lamaku. Sejak saat itu aku selalu bersamanya. Kemanapun aku melangkahkan kakiku, Dyana selalu setia berdiri disampingku. Sejak saat itu pula aku makin akrab dengannya. Dyana juga sudah tidak menganggapku sebagai temannya lagi. Melainkan saudaranya. Persahabatanku dengannya berlanjut hingga aku menduduki bangku kuliahan.
Dyana mendapat nilai terbaik di universitas saat diumumkan siapa saja dan nilai mereka yang lulus saat wisuda berlangsung di aula kampusku. Untuk merayakan dan mensyukurinya, Dyana mengajakku dan teman-temannya yang juga teman-temanku untuk berlibur kepulau Dewata. Tentusaja kami sanagt senang, berterimakasih, dan mengiyakan ajakannya itu.
Kamis, 13 Mei 2009, kami selaku para undangan Dyana berangkat kepulau Dewata. Karena baru pertama kali aku pergi kesana, aku sangat terkagum-kagum dengan pemandangannya yang indah. Penandangan alam yang begitu indah itu membuatku segera mengambil kamera dan berbagai lukisan yang telah diciptakan oleh Sang Pencipta beberapa abad yang lalu. Saat aku akan mengambil gambar pulau yang sangat indah itu, tanpa sengaja aku menyenggol teman lamaku, Dyana dan membawanya terjatuh kedalam selat Bali. Aku tidak menyadari sebuah kejadian maut yang baru saja terjadi dengan cepat. Langsung saja Dyana yang tidak ingin nyawanya hilang begitu saja berteriak meminta pertolongan. Karena keasyikan mengambil gambar, aku tidak menyadari kejadian tragis itu. Setelah puas dengan apa yang baru saja kuhasilkan, aku mencari Dyana untuk menunjukkan gambar-gambar yang telah aku hasilkan. Aku mencari kesana-kemari tetapi tak juga kunjung kutemukan. Sampai akhirnya aku hanya bertemu dengan teman dekatku di kampus. Rita.
“Eh, Dyana dimana?,” tanyaku dengan santai namun buru-buru karena sudah tidak sabar untuk menunjukkan sesuatu yang baru saja kuhaasilkan.
Dia tidak menjawab sepatah katapun. Akupun kembali bertanya. “Kamu tahu tidak Dyana dimana?.”
Dengan air mata yang turun secara langsung dengan deras dipipi Rita. “Dia sudah pergi,” jawabnya sambil menunjuk ke selat Bali yang berada disampingnya. “sudah ada disana sejak tadi.”
“APA!”
Jantungku berdetak mulai berlarian kesana kemari yang menghasilkan suara dag dig dug versi terbaruku yang sangat cepat. “Tidak. Tidak mungkin ini terjadi. Dyana belum pergi. Dia belum pergi,” kataku dalam hati. Dengan segera aku mengambil perlengkapan menyelamku dan turun ke air untuk membuktikan semua omongan Rita juga menyelamatkan Dyana.
Satu jam aku berada didalam air namun aku belum juga menemukan Dyana. Gas yang aku bawapun sudah habis. Tapi aku tidak ingin kehilangan dirinnya dengan cepat. Aku tidak mau. Kupaksakan diriku untuk tetap mencari Dyana hingga kutemukan. Tak lama kemudian, aku kelelahan. Ditambah lagi dengan tabung gas oksigen yang sedang aku bawa ini sudah kosong. Aku sudak tidak kuat lagi. Dengan berat hati, aku meninggalkan Dyana yang telah tergeletak tak berdaya dibawah sana. Begitu juga denganku. Seperti yang sudah kukatakan tadi. Aku yang sudah tidak kuat lagi. Aku sudah tidak kuat lagi untuk melanjutkan perjalanan dan menyelamatkan diriku dari maut. Namun apalah daya. Kaki dan tanganku pegal. Aku sudah tidak kuat lagi untuk bernafas. Mungkin inilah yang dinamakan dengan sahabat sejati. Disaat sahabatnya sedanng membutuhkannya, dia selalu ada disampingnya. Disaat dia ingin sendiri, sahabatnya tidak memperbolehkannya dan selalu mencoba untuk menemaninya. Begitu juga dengan yang kualami saat ini. Aku tidak ingin menelantarkan temanku dibawah sana. Aku ingin menjemputnya dan menemaninya di alam sana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar