Air & Batu (cerpenku)

Air dan Batu
Setetes air mengalir lembut dikala hujan lebat masuk ke sungai. Pelan tapi pasti. Ia mengalir bersama teman-temannya yang lain.
Ia mengalir, dan terus mengalir tanpa ada sedikit pun keraguan yang terlukis di wajahnya. Ia datangi setiap sudut sungai-sungai kecil yang ada di Kota Baru itu. Di wajahnya terlukis sebuah kebahagiaan.
Baru kali dia mendapati kota dengan nuansa asri, dan damai seperti ini. Di sisi kanan, dan kirinya, menjulang pohon-pohon lebat nan tinggi yang tidak ia lihat lagi sejak ia meninggalkaan pedesaan lima tahun yang lalu. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke depan. Berwarna-warni. Ada warna pink, kuning, hijau, putih, dan semua warna yang cerah. Cantik sekali. Hm… Harum. Walaupun baunya warna-warni layaknya pakaian mereka, namun parfum yang mereka kenakan masih saja sama wanginya. Entah di mana mereka membelinya. Bunga-bunga yang indah.
Dia lalu melanjutkan perjalanannya menuju… em... dia belum sempat memikirkan akan ke mana dia selanjutnya. Di perempatan sepuluh meter sungai ini jika belok ke kanan, akan menuju Taman Kota. Dia hafal sekali tempat ini. Sudah berkali-kali dia membaca peta sungai kota ini. Jika belok ke kiri, akan menuju sebuah sungai yang berukuran kecil. Sungai itu menuju sebuah perkampungan yang juga sesuai dengan ukuran sungainya. Namun perkampungan itu sangat bersih, dan banyak dipenuhi dengan anak-anak. Mereka sangat lucu, dan menggemaskan. Yah.. walaupun mereka memang sedikit nakal. Namun itulah mereka. Anak-anak tanpa beban di hidupnya. Oh iya. Kalau lurus saja, akan sampai menuju sungai berair tawar yang terhubung dengan kolam ikan, dan sejenisnya yang terletak di depan rumah Walikota ke lima kota ini. “Hm… Itu sangat menarik,” pikirnya. Namun ia ingin sekali  berwisata ke Taman Kota. Di sana dia bisa melihat bagaimana kehidupan asli penduduk kota ini. Tidak membuang sampah sembarangan, saling menyapa satu sama lain layaknya mereka adalah orang yang sudah lama kenal, bermain, menjaga bayi, …… eits. Tunggu. Apa? Bayi? Ah..iya. Kalau tidak salah, istri Walikota ke lima kota ini baru saja melahirkan anak ketiga minggu lalu. Wah… benar-benar kabar yang menggembirakan. Hm.. bagaimana kalau ia menunjunginya? …Boleh juga. Tapi bagaimana cara ia menuju ke sana? Hanya tinggal lurus saja saat berada di perempatan sungai? ...Boleh juga. Tapi, bukankah air selalu mengalir tanpa arah? Mungkin memang berarah, tapi ia sama sekali tidak bisa menentukan arahnya. Hanya yang Kuasa saja yang tahu ke mana ia akan pergi selanjutnnya. Apakah ia akan belok kanan saat berada di perempatan, atau belok ke kiri? Atau mungin juga lurus? Tidak ada yang tahu tentang itu semua. Alhasil, ia hanya bisa menunggu. Menunggu ke mana ia akan pergi nantinya.
Sambil menikmati pemandangan indah di sekelilingya, air yang terus mengalir tanpa henti itu mulai memasuki alam bawah sadarnya.
Tanpa terasa lima menit telah berlalu. Sungai yang tadinya seperti gua hantu, kini telah berubah menjadi gua tanpa hantu. Cahaya yang menyilaukan setetes air tersebut membuatnya terbangun dan bertanya-tanya, “Di mana ini? Di mana aku?”
“Lihatlah sekelilingmu! Apa kau tidak tahu bahwa kau sekarang sedang berada di rumah tuanku?,” jawab sesuatu yang tidak memperlihatkan sosoknya.
“Hm…?,” jawab si air bingung. “Tuanmu? Siapa dia?”
“Jangan pura-pura tidak tahu! Kau berada di rumah tuanku. Tuan Walikota ke lima kota ini,” jawab suara tadi yang entah dari mana asalnya.
“Hm…?,” kata si air yang masih belum sadarkan diri seratus persen. “Siapa kau?”
“Aku..? Siapa aku? Apa kau tidak lihat siapa yang sedang berdiri, dan tidak bisa bergerak di tepi kolam ini?”
“Hm…?,” kata si air lagi sambil menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru kolam untuk mencari siapa sebenarnya sosok yang baru saja berbicara dengannya.
“Hei. Aku di arah jam dua. Bukan di arah jam sepuluh,” kata suara itu lagi. Si airpun menuruti suara itu. Dia lalu mengalihkan pandangannya ke arah jam dua. Dia sama sekali tidak bisa bergerak dengan cepat. Arus air di sini sangatlah lambat.
“Oh… Di sana kau rupanya,” katanya setelah berhasil menemukan arah suara tadi. Rupanya yang berbicara tadi adalah sebuah batu yang sama sekali tidak dapat melangkahkan kakinya sedikit pun dari tepi kolam. “Sedang apa kau di sana?,” tanya si air.
“Menunggu keajaiban datang,” jawabnya yakin.
“Keajaiban? Apa maksudmu?,” si air mulai bingung.
“Ya. Aku sedang menunggu sebuah keajaiban. Aku ingin sekali menjadi manusia seperti tuanku. Paling tidak seperti kau. Air yang selalu dapat pergi ke mana pun sesuka hatinya.”
..Siapa bilang? Aku tidak dapat pergi sesuka hatiku.”
“Maksudmu?,” tanya si batu.
“Aku tidak dapat pergi sesuka hatiku ke mana pun yang kumau. Aku harus menunggu waktu. Ketika waktu datang, aku selalu berharap aku dapat ke kota ini. Namun apa yang terjadi? Setelah menunggu sekian lama, baru hari ini aku dapat mengunjungi kota ini. Kota idaman yang sealu ingin kutinggali.”
“Lalu, mengapa kau tidak tinggal di sini saja? Atau mungkin kau mau bertukar tempat denganku? Hanya untuk sementara waktu. Bukan masalah, kan?”
“Tentu saja itu masalah. Kau tidak dapat bertukar tempat dengan mudah. Atau mungkin tidak untuk selamanya.”
“Kenapa?”
“Kita telah diciptakan seperti ini. Kau menjadi batu yang tidak dapat bergerak sama sekali, kecuali bila ada yang tanpa sengaja atau dengan sengaja memindahkanmu. Sementara aku. Aku adalah air yang harus selalu berkelana setiap saat ke manapun arus membawamu. Sedangkan tuanmu. Tuanmu dapat bebas berkelana ke manapun sampai akhir hayatnya. Namun takdir tetaplah takdir. Kita tidak dapat mengubah takdir dan tahu takdir kita atau tahu apa yang akan terjadi dengan kita nantinya sebelum kita melewatinya. Kita harus menjalaninya satu-persatu,” jawab air yang terus mengalir tanpa henti. “Kau harus bisa menerima kenyataan. Dan yakinlah bahwa Tuhan telah menciptakan kita sesuai dengan kemampuan kita. Semua yang telah ataupun akan terjadi pasti ada hikmahnya. Jangan pernah kau lupakan itu. …Sampai jumpa. Maaf aku harus cepat-cepat pergi. Arus air di sini terus mengalir. Aku tidak dapat berhenti. Senang bertemu denganmu. Sampai jumpa…!!,” kata air sambil terus berlalu. Dia lalu pergi pergi meninggalkan batu yang tetap terdiam tak bergerak sambil terus melanjutkan perjalanannya yang entah kapan akan berhenti.
“Huh. Beginilah kehidupan yang seharusnya. Syukurilah semua yang ada, dan jangan pernah lupakan penciptamu. Tetaplah jaga semua yang ada di sekitarmu dan rawatlah mereka dengan baik. …Itu benar,” batin air yang mulai terlelap kembali dalam mimpi indahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar