Pertemuan Singkat (Cerpenku)

“Aku nggak mau makan ini, Ma. Makanannya nggak enak,” kataku pada ibuku setelah melihat apa yang akan menjadi menu makan pagi hari ini.
“Terus kamu mau makan apa, Sis?,” tanya ibuku dengan sabar.
“Aku pengen makan ayam. Aku nggak mau makan pake’ tempe, Ma.. Aku maunya ayam,” kataku cukup keras pada ibuku yang sudah berusia 40 tahunan.
“Tapi ibu cuma punya ini, Sis.. Persediaan makanan kita cuma tinggal ini. Kalau kamu mau ayam, besok ibu masakkan ayam. Tapi hari ini kamu makan ini dulu, ya..,” jelas ibu.
“Nggak mau. Pokoknya Siska cuma mau makan ayam. Kalo’ nggak ada ayam, Siska nggak mau makan,” kataku.
“Siska! Kamu jangan kayak anak kecil gitu. Umurmu sudah dua belas tahun. Sebentar lagi kamu masuk SMP,” bentak ibu yang sudah tidak sabar lagi dengan kelakuanku.
“Terserah. Pokoknya aku nggak mau makan!,” kataku tetap bersi keras untuk bisa mendapatkan makanan yang aku inginkan.
“Siska!,” bentak ibu. “Kamu kira kita keeluarga kaya apa yang bisa makan enak terus? Kamu harus tahu kalau kita itu cuma keluarga sederhana. Masih untung kamu bisa makan tiga kali sehari. Harusnya kamu bersyukur karena masih ada orang yang keadaannya lebih parah daripada kamu,” kata ibuku tegas sambil menahan kesedihannya.
Aku yang dibentak seperti itu malah berdiri dan berjalan menuju pintu meninggalkan ibuku yang masih duduk di meja ruang tamu.
“Pokoknya aku nggak mau makan pake’ tempe aja. Titik,” kataku sebelum melangkahkan kakiku menuju luar rumah.


                                                                                       ***


“Heh. Lo nggak punya mata apa? Lo kira gue punya uang banyak apa? Kalo minta-minta tuh jangan sama pelajar SD dong! Uang sangu gue aja cuma lima ribu,” kataku kasar saat tiba-tiba ada yang memintaiku untuk menyumbangkan uangku pada seorang gelandangan kecil di perempatan.
“Jangan galak-galak dong kak.. Saya cuma minta seikhlasnyaa kakak aja kok. Adik saya belum makan sejak kemarin.. Kalo kakak nggak mau ngasih juga nggak papa. Saya nggak maksa kok kak..,” balas anak itu polos sekaligus ketakutan. Aku sebenarnya kasihan juga saat melihat anak itu karena ia lebih kecil daripada aku. Dari badannya dan juga badan adik yang ia gendong juga sudah terlihat jelas bahwa ia tidak berbohong soal perutnya yang sudah kosong sejak kemarin.
Anak itu yang baru saja mendapatkan kemarahanku akhirnya segera pergi dari situ dan meminta uang seikhlasnya pada orang lain yang kebetulan ada di sekitar perempatan ini.
“Dek..,” panggilku setelah aku memastikan bahwa jarak kami sudah cukup dekat.
“Apa kak?,” jawabnya polos tanpa ada tanda-tanda sedikitpun bahwa ia akan marah.
“Kamu bener-bener lapar ya, Dik?,” tanyaku.
Anak yang aku tanyai itu hanya diam sambil menatap adiknya yang saat itu sedang terlelap di atas gendongan sang kakak.
“Kalo aku beliin kamu makan mau nggak? Tapi uangku pas-pasan. Cuma ada lima ribu rupiah aja,” ajakku.
“Ha? Yang bener kak? Cuma seribu juga nggak papa kok kak. Yang penting kakak ikhlas dan nggak punya maksud apa-apa berapapun pasti aku terima kok…”
Aku yang mendengarnya hanya bisa tersenyum.
“Bu, nasi bungkus sama teh hangat satu ya..,” kataku memesan pada seorang pemilik warung yang ada di perempatan ini.
“Ini dik..,” kataku setelah makanan dan minuman yang tadi aku pesan sudah siap untuk disantap.
“Makasih ya, kak…,” kata anak tadi. Ia kemudian segera membangunkan adiknya dan mengajaknya untuk makan bersama. Walaupun hanya sebatas nasi bungkus dan teh hangat, namun kebahagiaan yang terpancar dimata kedua anak itu dapat kulihat.
Sekilas kata-kata ibu tadi sebelum aku berangkat sekolah melintas di kepalaku. “Kamu kira kita keluarga kaya apa yang bisa makan enak terus? Kamu harus tahu kalau kita itu cuma keluarga sederhana. Masih untung kamu bisa makan tiga kali sehari. Harusnya kamu bersyukur karena masih ada orang yang keadaannya lebih parah daripada kamu.”
Seharusnya aku sudah bersyukur karena aku masih punya ibu dan tetap dapat makan sehari tiga kali. Aku juga seharusnya tidak marah-marah pada ibu yang sudah bersusah payah menghidupiku sampai sebesar ini. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar