Semakin lama, rindu ini semakin memuncak
Semakin lama sayang ini semakin bertambah
Ku tau apa yang sedang kurasakan
Ku tau apa yang sedang kuderita
Tapi ku tak tau sampai kapan perasaan ini akan terus tersimpan dalam hatiku
Ingin segera ku ungkapkan semua ini
Namun ku tahu bahwa cintanya bukan untukku
Ku juga tau siapa diriku baginya
Mungkin benar bahwa harapan itu hanya akan menjadi mimpi indahku
Semakin lama sayang ini semakin bertambah
Ku tau apa yang sedang kurasakan
Ku tau apa yang sedang kuderita
Tapi ku tak tau sampai kapan perasaan ini akan terus tersimpan dalam hatiku
Ingin segera ku ungkapkan semua ini
Namun ku tahu bahwa cintanya bukan untukku
Ku juga tau siapa diriku baginya
Mungkin benar bahwa harapan itu hanya akan menjadi mimpi indahku
Berkali-kali aku menulis puisi yang mengandung tema dan isi yang sama. Sudah dua tahun juga aku memendam perasaan yang sama. Perasaan yang entah kapan akan terucap.
“Woi!” teriak Vinna mengagetkanku.
Aku yang sudah biasa dikageti Vinna hanya menoleh sekilas ke arahnya tanpa sedikitpun ekspresi yang terlukis diwajahku.
“Kenapa lo?” tanya Vinna. Ia menarik sebuah kursi dan duduk dihadapanku.
“Keinget dia lagi?” tanya Vinna setelah ia menyadari ada sebuah noteskecil yang terbuka lebar dihadapanku.
Aku mengangguk pelan.
“Sampe’ kapan lo bakal nulis puisi terus, Cha? Apa dengan nulis puisi-puisi itu dia bisa tau apa yang lo rasain? Kapan lo bakal nyatain itu?”
“Gue gak tau, Vin. Gue takut nanti setelah gue nyatain semuanya ke dia terus dia nolak dan pergi dari gue. Gue gak mau itu terjadi. Gue gak mau kehilangan dia,” kataku pelan.
“Kalo’ lo takut terus, lo gak akan pernah tau gimana perasaan dia. Lo harus nyoba..”
“Gue gak perlu nyoba apa pun. Gue udah tau perasaannya.”
“Maksud lo?”
Aku menarik napas. “Kemarin malem gue buka FB-nya. Dia update status. Katanya cewek yang dia sukai mau kuliah di US. Dia juga nulis kalo’ dia belum sempet ngomong,” jelasku sambil menahan tangis.
“Hmm…,” desah Vinna.
“Terus rencana lo gimana?”
Sepi. Beberapa menit kemudian aku hanya mengangkat bahuku sebagai jawaban atas pertanyaan Vinna tadi.
Lagu Wish You’re My Love-nya T-Max tiba-tiba mengalun lembut. Dengan malas, aku meraba bawah bantal, tempat biasa aku meletakkan HP.
Tanpa melihat siapa yang mengirim, aku segera membaca SMS.
“Hangout yuk!”
Pasti dari Vinna. Batinku.
Tanpa piker panjang lagi, aku segera mengetikkan kata ‘malas’ sebagai balasan.
SMS sedang dalam proses pengiriman ketika tanpa sengaja aku mengeja huruf yang tertera dilayar HP-ku.
“Sending message..... Bryan Oppa,” gumamku.
Seketika mataku membulat. Secepat kilat, aku menghentikan pengiriman dan mengetikkan sesuatu.
“Ngapain lo senyam-senyum sendiri gitu?” tanya Vinna saat ia baru saja menginjakkan kakinya ke dalam kelas.
“Gak pa-pa,” jawabku.
“Gak mungkin! Biasanya lo nulis-nulis gak jelas gitu. Sekarang lo senyum-senyum gak jelas. Atau mungkin setan yang dulu ada di dalam diri lo udah ganti sama setan yang sukannya senyum-senyum ya?” goda Vinna.
“Ngaco lo kalo ngomong! ...Gue cuma seneng aja. Malam minggu kemarin, gue hangout bareng sama kakak gue,” ceritaku.
“Oh ya?" Vinna bersemangat. "Wah! Kemajuan dong. Terus lo diapain aja?”
“Ya gak diapa-apain lah. Lo pikir gue cewek apaan?”
“Bukan gitu. Maksud gue, apa lo gak ditembak ato apa gitu ama dia?”
Aku menggerakkan kepalaku ke kanan dan kiri.
Hening.
"Hmmph..." sekuat tenaga, aku menghembuskan napas.
“Gak apa-apa, Vin. Gini aja gue juga udah seneng kok. Kalo’ dia bahagia, gue juga ikut bahagia. Gue bersyukur bisa deket sama dia walaupun gue cuma jadi adik dan bintang keberuntungan buat dia,” kataku sambil tersenyum meyakinkan Vinna bahwa aku akan baik-baik saja.
Tiba-tiba Vinna memeluk erat tubuhku.
“Walau kakak gak tau apa yang gue rasain, walau kakak gak nganggap gue siapa-siapa, gue bakal tetep sayang ama kakak,” kataku dalam hati. Tak sampai sedetik, mataku sudah mulai kabur karena air mata yang menggenang di mataku.
“Selamanya,” lanjutku dengan sebuah senyuman yang ikut menghiasi bibir mungilku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar